Semalam, (13/07), di TV One, saya geregetan saat melihat berita seorang anak, bernama Tegar yang kehilangan salah satu kaki gara-gara ulah bapak tirinya yang melindaskan kaki Tegar di rel kereta api. Penyebabnya, si bapak tiri Tegar ini sedang kalut karena habis ribut dengan sang istri, ibu kandungnya Tegar. Lagi-lagi, anak menjadi korban, menjadi pelampiasan.
Saat saya lihat di televisi, saya cukup tertekan. Seorang bocah yang baru genap berusia tiga tahun harus menanggung trauma begitu berat. Tiap kali melihat kakinya yang buntung sebelah, wajahnya pasti langsung menghadap ke atas, seakan tak percaya kakinya yang tinggal sebelah. Ketika kakinya diukur untuk dibuatkan kaki palsu sebagai ganti kakinya yang hilang, lagi-lagi Tegar meronta, menolak.
Saya kok jadi tidak sabar ingin segera pulang Jogja, menjenguk anak-anak di perempatan Gramedia Jogja dan anak-anak di bawah kolong jembatan kali Code. Baca selebihnya »
DIarsipkan di bawah: Uncategorized | Leave a Comment »


Saya masih ingat, walau agak samar-samar, ketika pertama kali pipi saya kena tampar seorang anak kecil berumur lima tahunan, Oki, karena saya melerainya agar tidak berkelahi dengan saudara laki-lakinya, Angga. Waktu itu pertama kalinya saya menjadi pengajar anak-anak (jalanan) di lingkungan Kali Code Yogyakarta.
Saya paham benar bahwa “Mbadog”* adalah kebutuhan paling penting bagi manusia di seluruh jagad. Makanan/minuman juga menjadi media untuk mengungkapkan perasaan cinta, ritual budaya, mempererat persaudaraan, dan sebagainya.





