Say No To KEKERASAN

tegarSemalam, (13/07), di TV One, saya geregetan saat melihat berita seorang anak, bernama Tegar yang kehilangan salah satu kaki gara-gara ulah bapak tirinya yang melindaskan kaki Tegar di rel kereta api. Penyebabnya, si bapak tiri Tegar ini sedang kalut karena habis ribut dengan sang istri, ibu kandungnya Tegar. Lagi-lagi, anak menjadi korban, menjadi pelampiasan.

Saat saya lihat di televisi, saya cukup tertekan. Seorang bocah yang baru genap berusia tiga tahun harus menanggung trauma begitu berat. Tiap kali melihat kakinya yang buntung sebelah, wajahnya pasti langsung menghadap ke atas, seakan tak percaya kakinya yang tinggal sebelah. Ketika kakinya diukur untuk dibuatkan kaki palsu sebagai ganti kakinya yang hilang, lagi-lagi Tegar meronta, menolak.

Saya kok jadi tidak sabar ingin segera pulang Jogja, menjenguk anak-anak di perempatan Gramedia Jogja dan anak-anak di bawah kolong jembatan kali Code. Baca selebihnya »

Perempuan yang hampir mati itu

mbakyu

mbakyu

Kakak perempuanku terlihat lunglai. Tabung oksigen yang kokoh berdiri di samping tempat tidurnya juga tampak sayu. Ustadz yang kami tunggu-tunggu untuk ruqyah belum juga datang, padahal irama nafas kakakku mulai tak beraturan. Di samping tempat tidurnya, raut muka bapak terlihat pucat, sepucat wajah kakak. Ibu, orang paling tegar yang pernah kutemui, jauh lebih kurus dibandingkan 6 bulanan yang lalu. Aku sendiri hanya bisa mondar-mandir di luar pintu, tak tega melihat nya untuk segera menemui ajal. Menjelang Maghrib, teman-teman dekat kakak mulai berdatangan, mereka juga akan merayakakan kematian.

Lima tahunan silam, ketika kutulis cerita ini, aku masih duduk di bangku kuliah semester akhir, juga mahasiswa paling akhir yang bakal wisuda. Wisuda yang sudah kutunggu-tunggu, namun akhirnya kandas di pertengahan tahun 2006. Baca selebihnya »

(Keluar) dari sangkar “emas”

Seperti biasa, Senin, (20/04), adalah hari menyenangkan. Coba tebak apa? Berebut Kompas Sabtu dan Minggu dengan sekretaris bos. Penyebabnya adalah karena saya, dirinya, serta pegawai lain hampir punya minat sama; keluar dari sangkar emas ini. Sangkar emas? Begitu orang menyebutnya, termasuk orangtua saya.

Bukannya mencoba mengadu, atau malah mencari simpati, sekarang ini saya benar-benar diganggu perasaan ingin mengakhiri kerja saya di tempat kerja yang sekarang. Orang mungkin beranggapan bahwa saya termasuk orang mujur. Kerja di lembaga pemerintahan, sekalipun bukan pegawai negeri, gaji bulanan selalu bisa diharapkan, uang makan juga ada, tak perlu takut sewaktu-waktu kena PHK. Nyaman, bukan?

Bekerja di lembaga pemerintahan ternyata memang seperti yang saya perkirakan dulu. Kerjaan minim (itu saya, nggak tahu yang lain), lebih banyak berleha-leha, pesbukan mulu, blogging till drop, nyaman sekali, khan?

Sudahlah, saya coba bernostalgia saja.

Di masa masih kuliah dulu, saat saya benar-benar aktif dengan segudang kerjaan, saya selalu tahu apa yang akan kerjakan esok pagi ketika bangun dari tidur. Motor bebek merk Sigma siap dipanasi, tak perlu sarapan, beberapa kertas berisi kajian-kajian tetek bengek yang semalaman saya oprek, semua sudah siap dengan sempurna. Sungguh memesona.

Sore, ketika pulang kerja, lagi-lagi saya meras otak lagi; membantu anak-anak belajar, bermain, ngapelin tetangga baru nan cantik, ohh…

Sudahlah, CV, resume dan pas photo ukuran 3×4 sudah siap, nih! saya pengen merealisasikan nostalgia ini!

Djuanda, 200409

Oki minggat (lagi)

oki_angga_gwSaya masih ingat, walau agak samar-samar, ketika pertama kali pipi saya kena tampar seorang anak kecil berumur lima tahunan, Oki, karena saya melerainya agar tidak berkelahi dengan saudara laki-lakinya, Angga. Waktu itu pertama kalinya saya menjadi pengajar anak-anak (jalanan) di lingkungan Kali Code Yogyakarta.

Pulang ke Jogja berarti kembali berharap menemukan iman, harapan, masa depan, menjadi muadzin “tetap” di Gondolayu, menjadi orang tua dadakan untuk anak-anak, menjadi pengusaha “angkringan buku”. Semua ini sebagian ngen-ngen yang terus membumi di kepala saya.

_**_

Selasa, (07/04), karena sudah nggak sabar pengen ke Jogja, akhirnya saya putuskan saja untuk bolos kerja. Padahal, form cuti sudah ada di tangan, tapi lagi-lagi insting bolos jadi racun.

Yang jelas, tujuan utama bolos kerja tersebut pengen pulang lebih awal, agar tidak terlalu terjebak penumpang kereta api yang untel-untelan. Dan kampung Code adalah kunjungan pertama yang benar-benar sudah saya tunggu-tunggu. Sekalipun kata Taufik, saya ini sudah “diusir” dari kampung Code, karena saya mbelot ke Jakarta, demi “numpuk duit”, saya tetap teguh hati ke Code tiap kali pulang Jogja, hihihi. Baca selebihnya »

Kuliner Warteg

wartegSaya paham benar bahwa “Mbadog”* adalah kebutuhan paling penting bagi manusia di seluruh jagad. Makanan/minuman juga menjadi media untuk mengungkapkan perasaan cinta, ritual budaya, mempererat persaudaraan, dan sebagainya.

Sampai kapanpun, kuliner hendaknya dihargai sebagai bagian dari kebudayaan. Apalagi saat ini dominasi konsumsi dan advertising mie telah mengambil alih selera perut dan mulut kita. Menghilangnya makanan dan minuman yang merupakan pusaka milik bangsa merupakan tanda bahwa negara kita juga mulai kehilangan kemampuan mengolah dan menyajikan makanan dan minuman tersebut (Majalah Gong, edisi Oktober 2008). Baca selebihnya »