Kemapanan

Ketika saya memikirkan arti kemapanan, pasti akan muncul hal-hal aneh seperti; gaji, rumah, anak, istri, cucu dan tentunya pensiun. Seakan kemapanan menjadi harga mati yang harus didoakan, dikejar, diwujudkan, lalu kemudian dicaci (itu menurut saya).

Sewaktu kuliah dulu, saat kepala saya masih dipenuhi ide-ide ganjil yang mendengungkan kebebasan, anti kemapanan, anti birokrasi, celana jeans yang robek sana-sini, sampai membumikan sandal jepit di lingkungan kampus, saya sangat menikmatinya. Tidur di kampus dengan perut dibasuh rheumason demi mengganjal rasa lapar, ngampus dengan sandal jepit yang hampir putus, rebutan sepatu dengan teman pers kampus menjelang ujian, semua sungguh nikmat. Sekarang, saat umur mulai bertambah, saat ketakutan tidak bisa mengisi perut datang, anti kemapanan yang pernah saya anut bubar begitu saja. Saya seperti terperosok di lorong yang jauh berbeda dengan 5 tahun yang lalu.

Sekarang ini teman-teman sekantor sedang ribut-ributnya browsing lowongan CPNS. Dari mulai tanya departemen mana saja yang buka, formasinya apa, kira-kira bisa pakai uang sogokan atau tidak, sampai gajinya berapa, semua membuat saya muak.

Tahun 2007 lalu saya lolos tes CPNS di salah satu departemen yang memfokuskan misinya pada bidang keilmuan. Namun karena ketidakyakinan saya, saya melepasnya dengan tidak melakukan registrasi ulang di satuan kerja masing-masing. Tidak tahu kenapa, justru saya mensyukurinya. Pertimbangannya bukan pada persoalan finansial atau persoalan jaminan sokongan ekonomi saat sudah pensiun. Kemapanan bukan hanya berkutat pada sektor itu saja. Kemapanan saya definisikan mapan dalam berpikir, mapan untuk tidak takut dengan keputusan-keputusan yang kita buat, mapan untuk tidak tergoda materi, dan mapan untuk berani berpikir keluar. Jika kemapanan yang ada di kepala kita adalah jenis kemapanan yang membumikan tunjangan hari tua, sungguh, kita sudah berada di confort zone. Seperti dalam buku Who Moved My Cheese, yang pesan moralnya; jangan merasa mapan dan nyaman di satu tempat. Berada terus-menerus di comfort zone itu berbahaya. Dua kurcaci di labirin penuh keju. Kurcaci pertama selalu bekerja mencari keju, sementara kurcaci kedua berleha-leha di tumpukan keju sampai menyadari kejunya telah habis (Kompas, 21/09/08).

Kemauan saya untuk belajar tidak pernah padam, akan selalu ada. Sekalipun malaikat sedang buas-buasnya membetot nyawa saya. Saya tidak ingin terpasung di satu objek, yang mengandalkan durasi kontrak 3 tahun dan pinalti 10 juta jika keluar sebelum waktunya.

Saya ingin bebas.

Djuanda, 210908

2 Tanggapan

  1. dengerin LENTERA JIWA-nya NUGIE, n LENTERA JIWA-nya Andy F. Noya, di http://www.kickandy.com

    p

  2. ane setuju hidup freedom,,jiyuu no shoutai. Genbatte!!!

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.