Setelah lama ngimpi-ngimpi pengen punya sepeda sejak 2006, tahun ini akhirnya kesampaen juga. Soal merk dan komponen-komponennya, tak usahlah saya rinci satu persatu, karena saya bukan bikers sejati yang gemar unjuk “pamer” hasil upgrading per bulan yang benar-benar nguras duit ampe puluhan juta. Sepeda, bagi saya, adalah pasangan sejati yang harus saya perlakukan layaknya selingkuhan tersayang
Dulu, sewaktu saya masih SMP, di Jogja, kota yang paling saya cintai se-dunia, sepeda adalah pemandangan yang biasa dan gampang kita temukan di desa-desa dan sepanjang jalan kota. Anak-anak sekolah, orang-orang tua yang bekerja di pasar dan kuli-kuli bangunan yang mengayuh sepeda sejak Subuh, mereka adalah konsumen utama penunggang sepeda. Saya sendiri juga termasuk penggila sepeda. Bahkan kalau saya kalkulasi, seperempat beasiswa bantuan belajar saya sejak dari SD sampai SMP selalu saya belikan sepeda.Trend Mengkhawatirkan
Baru-baru ini, sekitar Februari, di Jogja baru saja diresmikan sebuah forum penikmat sepeda lipat, Jogja Folding Bike. Anggotanya adalah orang-orang kantoran yang notabene berkantong tebal, karena mampu membeli harga sepeda lipat yang harganya di atas 3 jutaan. Sebelumnya, sudah ada juga forum B2W yang setahu saya dikomandani si Joyo dan lumayan “ngracunin” orang-orang yang sebelumnya penunggang motor menjadi penunggang pit. Joyo sendiri berhasil ngracunin empat orang di kantornya; saya sendiri, mbak Niken Lestari, Bung Mart Widie, dan Ketut-pacarnya juga. Nggak kebayang sekarang udah berapa orang lagi yang kena racun sepeda Joyo. Saya jadi inget temen saya, Ketut, yang rela cashbon beberapa juta demi sepeda, hakhakhak.
Sekarang ini, MTB adalah satu jenis sepeda yang paling digandrungin semua kalangan. MTB sendiri sebenarnya adalah sepeda model lawas yang dipoles menjadi sepeda mutakhir yang memiliki komponen cukup ciamik. Tambahan fork yang dulu terlihat konvensional sekarang berubah menjadi model suspensi/fullsus. Frame yang dulu terlihat kurus, sekarang berubah menjadi gendut dan slooping. Saddle yang dulu menganut gaya pantat lebar sudah berubah menjadi mini saddle, bahkan sampai ada lubang kentutnya segala.
Bagi seorang maniak sepeda, upgrading sepeda secara berkala adalah kewajiban. Gonta-ganti frame, fork, groupset, adalah hal biasa. Harganya pun jangan disangka murahan, tidak cukup sepuluh duapuluh ribu. Teman saya di Bekasi yang baru saya kenal Januari lalu, pak Widyo, dia rela merogoh kocek enam jutaan lebih hanya untuk ganti frame. Saya sendiri cukup dengan frame generic merk Scott Pro Racing, 450 ribuan.
Jelas, beraktifitas yang menyehatkan adalah sebuah kewajiban bagi orang-orang kantoran yang terbiasa duduk dan melototin komputer dengan kopi mengepul, lalu jam 12 teng sudah nongkrong lagi di warteg yang itu-itu juga, dengan kadar kolesterol yang tidak kebayang ngerinya. Kemudian ujung-ujungnya perut menggelembung tak terkendali, lipetan perut disana-sini. Hehehe, nyindir diri saya sendiri.
Alhamdulillah, dan sayangnya, sekarang ini sepeda menjadi komoditi bisnis paling laris dalam tiga tahun terakhir ini. Untuk bisa memiliki sepeda MTB dengan komponen-komponen standard saja dibutuhkan duit 2,5 jutaan. Belum lagi folding bike yang bisa mencapai harga lima jutaan. Situs-situs komersil pun bermunculan, menawarkan sepeda, komponen-komponennya, asesorisnya, yang harganya benar-benar ngeri. Sepeda tidak lagi menjadi gerak mekanisme yang menyeimbangakan kaki, tangan, dan olah tubuh. Orang-orang berlomba upgrading sepeda. Istilah-istilah asing seperti downhill, menjadi istilah yang wajib dilakoni seorang bikers (G wajib sihh).
Seminggu yang lalu ketika saya berada di Jogja, anak-anak se-umuran SMP sudah ikut-ikutan menjadi bikers. Merk sepeda yang mereka tunggangi juga tak kalah mahal dengan sepeda yang ditunggangi bapak-bapak pekerja kantoran di Jakarta. Kona, Scott, United, Polygon, dengan fork 130 mm yang menjulang tinggi, ditambah groupset Deore. Nggak kebayang begitu kaya orangtuanya. Saya sendiri hanya geleng-geleng. Saya saja butuh waktu setahunan lebih untuk bisa memiliki sepeda yang sekarang ini saya pake.
Untuk teman-teman saya yang membaca tulisan ini, jangan anggap saya bukan termasuk orang yang tidak mendukung gerakan “Mari Bersepeda”. Di kantor saya yang memiliki jumlah pegawai hampir 300-an, cuma saya yang bersepeda. Saya menulis kajian sederhana ini untuk mencoba mengembalikan sepeda ke makna asalnya. Mengayuh dengan keseragaman seluruh gerak tubuh.
DIarsipkan di bawah: Uncategorized








hah? aku keracunan joyo? yo olohh…
memang pak lek, upgrading sepeda itu virus.
membuat kita jadi kecanduan untuk terus dan terus dan terus menerus mengupgrade komponen2 sepeda.
*pengakuan mantan korban*
tapi sekarang, aku ngerasa…. yah, sepedaku sudah keren, so what. toh nganggur saja di rumah (secara yg punya gi merantau ya)
tapi gak ada salahnya loh, kupikir itu bisa jadi efek positif juga. ketika orang menganggap bersepeda mahal itu keren, maka orang berlomba2 mengupgrade sepedanya, dan bukan motor ato mobilnya. alhasil, polusi pun berkurang (meski cuma berkurang 1-2 motor ato mobil). kemajuan yang patut disyukuri toh.
tapi hiks.. skrg harga timah dunia melambung. komponen sepeda jadi terbang tingiiiiii… sekali. oh.
aahhh… anda terlalu beromantisme klasik. membayangkan sesuatu yang dulu adalah lebih indah dari sekarang. bagiku sekarang ya sekarang, dulu ya dulu. sepeda ya sepeda, mau upgrade ya di-upgrade saja. gak usah filosofis. toh sang filosofis juga pragmatis dan reaksioner. buat simple aja, kalo seneng jalanin saja. orang mau bilang apa, biarin saja. yang penting punya mimpi dan jalan sendiri. itu tren atau tidak, gak masalah.
justru karena saya filosofis dan reaksioner, mangkanya saya cukup “sirik” dengan kebiasaan upgrade sepeda, hehe
Ketut ketut, aku ki ngimpiin punya sepeda sejak masuk kuliah dulu je. masih inget khan waktu aku numpak ontel dari bantul ampe kampus….tapi mampu beli sepedane baru tahun 2009 ini, hakhakhak….sip
gua gak diracunin joyo kok, gua dirayu joyo