Kuliner Warteg

wartegSaya paham benar bahwa “Mbadog”* adalah kebutuhan paling penting bagi manusia di seluruh jagad. Makanan/minuman juga menjadi media untuk mengungkapkan perasaan cinta, ritual budaya, mempererat persaudaraan, dan sebagainya.

Sampai kapanpun, kuliner hendaknya dihargai sebagai bagian dari kebudayaan. Apalagi saat ini dominasi konsumsi dan advertising mie telah mengambil alih selera perut dan mulut kita. Menghilangnya makanan dan minuman yang merupakan pusaka milik bangsa merupakan tanda bahwa negara kita juga mulai kehilangan kemampuan mengolah dan menyajikan makanan dan minuman tersebut (Majalah Gong, edisi Oktober 2008).

Di Jakarta, saya selalu menemukan sensasi mie goreng atau mie rebus untuk meredam kelakar perut tiap jam 12 siang. Ujung-ujungnya, saya harus memencet nomor ekstensi pantry untuk memesan sepiring mie goreng berkuah ditambah satu tempe bacam sebagai obat kangen Jogja. Setengah jam kemudian, apa yang terjadi? perut saya serasa terbakar, panas. Tapi apa boleh buat, makan di luar sono tak lebih menarik dibandingkan mie goreng berkuah yang dimasak oleh Mpok Nur.

Bolehlah lidah saya cukup terasah dengan bau mie rebus yang begitu menyengat setelah diolah tak lebih dari 15 menit, tapi tetap saja sampai sekarang saya merindukan mi godog khas Jogja yang diolah sampai setengah jam lebih.

Bagi perantau seperti saya, yang tinggal di kos-kosan dan tidak mempunyai minat sama sekali untuk memasak, karena memang tidak bisa memasak, warteg adalah jujugan nomor satu untuk memulihkan stamina perut. Di samping menunya beragam, warteg juga minimalis, dalam arti harganya memang cocok dengan kantong saya yang hanya pegawai kantor rendahan.

325Secara definitif, Warung Tegal adalah salah satu jenis usaha culinary yang menyediakan makanan dan minuman dengan harga terjangkau. Biasa juga disingkat Warteg, nama ini seolah sudah menjadi istilah pengganti untuk warung makan kelas menengah ke bawah yang berada di pinggir jalan, baik yang berada di kota Tegal maupun di tempat lain, baik yang dikelola oleh orang asli Tegal maupun dari daerah lain. Kalau saya hitung, usaha warteg di lingkup kos saya juga cukup banyak. Kalau saya tidak salah hitung, ada sekitar tujuh warteg. Jarak antara warteg satu dengan yang lain cukup dekat, tidak sampai 200 meter, tapi warteg-warteg tersebut tetap saja laris buwanget.

Soal menu dan harga, janganlah kita samakan dengan warung padang yang memiliki ciri khas tersendiri. Menu di warteg biasanya bersifat sederhana dan tidak memerlukan peralatan dapur yang begitu lengkap dalam hal memasaknya. Semur kentang berwarna kuning dengan bumbu sambal pedas yang selalu membuat perut saya sakit tiap kali memakannya, sayur sop, orek tempe yang dicincang kotak-kotak nan kecil serta tak lupa menu mendoan/tempe goreng dengan pasangan sehidup sematinya, tahu susur/tahu goreng. Silahkan buktikan, saya berani bertaruh, semua menu ini pasti jamak di warteg.

Dalam hal struktural kepegawaian, warteg memiliki keunikan tersendiri. Biasanya warteg dimiliki oleh seseorang yang asli Tegal, biasanya perempuan yang sudah cukup berumur. Si pemilik ini biasanya juga ikut terjun di lapangan, dari mulai belanja bahan-bahan makanan, memasak sampai hal yang paling riskan, mengelola keuangan. Untuk tenaga operasional, biasanya si pemilik warteg mempekerjakan beberapa orang yang juga asli Tegal. Namun tenaga operasional ini dibagi menjadi beberapa kloter, biasanya tiga kloter. Masing-masing kloter terdiri dari dua atau tiga orang dan tiap tiga sampai lima bulan sekali terjadi pergantian kloter. Karena masih menganut pola kekeluargaan, biasanya si pemilik juga merekrut tenaga operasional yang masih memiliki hubungan saudara. Wah, arisan keluarga donkk…!!

Warteg, menurut saya, adalah tempat paling demokratis yang saya temui selama di Jakarta. Di warteg, semua orang bebas mengemukakan pendapatnya ngalor-ngidul tidak berujung tanpa takut terkena razia undang-undang. Topik yang dibicarakan juga beragam, mulai dari keluhan karena kinerja pemerintah yang makin nggak jelas, olahraga sampai obrolan-obrolan saru yang biasanya dilontarkan dalam bahasa Jawa-Tegal.

Sampai sekarangpun saya masih menggantungkan nasib perut saya kepada warteg. Lokasi warteg favorit yang sering saya kunjungi berada di perempatan besar Harmoni, Jakarta Pusat. Posisi warungnya ada di samping kiri halter busway Harmoni (dari arah Utara). Selain saya dan Ian yang menasbihkan diri menjadi “member tetap”, masih ada orang-orang berbaju necis yang saya pikir tidak cocok makan di warteg. Uppss….

Itulah warteg, tempat mengadu nasib perut yang tidak mengenal kasta, siapa saja bebas berkunjung. Mau miskin, kaya, artis, pejabat, semua tak masalah. Selama Anda punya cukup dana, Anda bebas menunjuk menu apa saja. Bahkan jika Anda sudah sangat akrab dengan warteg yang sering anda kunjungi, Anda bisa mengambil sendiri makanan yang Anda mau, tak perlu lagi dilayani bak tamu. Bahkan, ini pengalaman pribadi saya dulu, jika Anda sudah akrab dengan warteg, Anda juga bisa ngutang. Tapi, tetep, kudu bayar!

Djuanda, 250309

Tinggalkan Balasan