Saya masih ingat, walau agak samar-samar, ketika pertama kali pipi saya kena tampar seorang anak kecil berumur lima tahunan, Oki, karena saya melerainya agar tidak berkelahi dengan saudara laki-lakinya, Angga. Waktu itu pertama kalinya saya menjadi pengajar anak-anak (jalanan) di lingkungan Kali Code Yogyakarta.
Pulang ke Jogja berarti kembali berharap menemukan iman, harapan, masa depan, menjadi muadzin “tetap” di Gondolayu, menjadi orang tua dadakan untuk anak-anak, menjadi pengusaha “angkringan buku”. Semua ini sebagian ngen-ngen yang terus membumi di kepala saya.
_**_
Selasa, (07/04), karena sudah nggak sabar pengen ke Jogja, akhirnya saya putuskan saja untuk bolos kerja. Padahal, form cuti sudah ada di tangan, tapi lagi-lagi insting bolos jadi racun.
Yang jelas, tujuan utama bolos kerja tersebut pengen pulang lebih awal, agar tidak terlalu terjebak penumpang kereta api yang untel-untelan. Dan kampung Code adalah kunjungan pertama yang benar-benar sudah saya tunggu-tunggu. Sekalipun kata Taufik, saya ini sudah “diusir” dari kampung Code, karena saya mbelot ke Jakarta, demi “numpuk duit”, saya tetap teguh hati ke Code tiap kali pulang Jogja, hihihi.
Setelah setengah harian tidur, melepas capek akibat begadang semalaman di kereta, tujuh seprempat malam saya segera saja ke Jogoyudan, sambil berharap bisa bertemu anak Oki. Namun saya kudu mampir dulu ke rumah Bu Suni, karena ada janji mengajar anak-anak dengan Levi.
Sampai di rumah Bu Suni, saya cukup kaget, karena anak-anak ternyata udah pada ngumpul. Muka-muka kucel yang dulu tiap hari saya temui; Ida, Mei, Wanti, Jepi, Deva, Novi, semua langsung mencolot kesana-kemari. Saya bak badut yang harus rela dibetot sana-sini. Salah satu anak perempuan Bu Suni, Jepi, yang namanya diambil karena terisnpirasi pemilu–jelang pemilu, sekarang sudah jauh berbeda, lumayan agresif. Jepi yang dulu selalu malu-malu kucing tiap kali saya membantu mengerjakan PR, sekarang sudah bisa nglendot seperti anak kucing. Begitu juga dengan Ida, kelas 3 SD, yang paling sering kena pukul Make karena alasan setoran kurang, terlihat tambah kucel. Kakinya menghitam kotor karena tak pernah mau sandalan, rambutnya yang dulu sulit disisir karena tak pernah sampoan, sekarang tambah parah. Kata Novi, kutu rambut Ida malah nambah banyak. Tuhan, saya benar-benar rindu anak-anak ini.
Tapi kok si Oki tidak kelihatan batang hidungnya. Kemana nih bocah? Jangan-jangan kembali ke hobby lamanya, minggat lagi. Langsung saja saya turun ke kampung, ke rumah Oki. Benar tebakan saya, Oki minggat lagi.
Kata Make, sudah hampir dua bulan Oki minggat. Jejak rimbanya juga tak ada yang tahu kemana. Make, orang tua kandung Oki, hanya biasa saja tuh ditinggal minggat salah satu anak laki-lakinya ini. Sungguh keterlaluan nih orang.
“Nang, Oki minggat lagi, cari sono. Kamu khan bapaknya!”, kata Make. Sayapun balas menanggapinya, “Emaknya sendiri nggak peduli, nggak mau tlusupan nyari anaknya yang minggat, kenapa saya yang bukan apa-apanya Oki harus kliteran Jogja nyari tuh bocah!”, make hanya diam, mungkin sedang mengumpat.
Ditemani Wendi, kakak Oki tapi beda bapak, saya putuskan malam itu juga tlusupan di seputaran Kotabaru yang luasnya minta ampun, ya mencari Oki.
Target pertama adalah lingkungan lapangan 3B SMA 3 Jogja, karena disitu ada beberapa warung yang tutup di malam hari dan sering dijadikan arena tidur gelandangan. Nihil, Oki tidak ada.
Target kedua adalah warung soto Pak Soleh yang ada disamping lapangan Kridosono. Saya pelototkan mata kesana-kemari, tetap saja juga tidak ada tuh bocah.
Tagert ketiga, target terakhir, karena saya mulai kelelalahan dan belum sembuh dari sakit, game online Rumah Mirota segera saja saya tlusupi. Saya clingak-clinguk kesana-kemari, sampai-sampai saya cuekin mbak-mbak operator yang menyapa. Akhirnya, ketemu juga tuh bocah sedang ketak-ketok keyboard main game CS, sambil sebentar-sebentar misuh, “Asu ki”!”.
Hampir setahunan saya tak bertemu dengan nih bocah, perangainya malah semakin parah. Cuek abis, gemar sekali misuh dan mengucapkan kata-kata jorok. Oki memakai kaos olahraga dari sekolahan warna kuning yang ia balik, bagian dalam di luar, bagian luar di dalam.
Tanpa basa-basi Oki malah menyapa saya duluan setelah saya toyor pelan kepalanya dari belakang.
“Eh, mas Nanang, kapan balik Jakarta?”, kata si Oki sambil clingukan jangan-jangan saya ngajak salah satu kakak laki-lakinya. “Nyantai, Kik, aku nggak ngajak sopo-sopo!”, padahal Wendi saya suruh sembunyi diluar. Hal ini saya lakukan demi menjaga kepercayaan Oki dan demi mendapat informasi dimana ia tinggal dan bisa “hidup” selama dua bulan minggat.
Ketika saya tanya, “kok kaose dibalik ki kepie”?. Dia lepas abis menjawabnya, “lha udah kucel banget je, Mas.
Yo tak balik wae!?“, begitu katanya. Celana SD, warnanya merah, yang ia pakai malah lebih lecek, kayak bocahnya.
Setelah berbasa-basi sana-sini, akhirnya Oki ngaku kalau ia dirawat tukang becak yang biasa mangkal di seputaran Kridosono, Pak Gareng namanya. Profesinya sebagai penarik becak, Pak Gareng ini juga serabutan sebagai tukang cuci di warteg samping SMA 3 Jogja dengan upah sepuluh ribu perhari. Untuk urusan tidur malam hari, Oki tidur di becak yang diparkir disamping optik Akur, sedangkan Pak Gareng numpang tidur di pos satpam. Oki juga ngaku kalau Pak Gareng jauh lebih baik ketimbang bapak dan emaknya. Masih kata Oki, sekalipun Pak Gareng berpenghasilan kurang dari sepuluh ribu perhari, tapi Oki tetap bisa makan. Uang saku harian juga ada, paling tidak dua ribu.
“Kalau sama Make, aku kudu nyetor duit, Mas. Kalau setoran kurang, di rumah nggak dapat jatah makan!”, begitu alasan si Oki. Saya hanya diam, tak berkomentar sedikitpun.
Setelah setengah jam saya bertahan merayu Oki agar mau pulang ikut, akhirnya saya putuskan pulang jam sembilan malam, karena sejak awal saya juga tak berniat mengajak Oki pulang. Niat saya sejak awal hanya ingin tahu kondisinya dan melepas kangen. Melihat Oki bisa ketawa-ketiwi di depan layar monitor saja saya sudah senangnya minta ampun. Toh, sekalipun Oki berhasil saya ajak pulang, seminggu, dua minggu, atau sebulan setelah itu ia pasti minggat lagi. Rumah bukannlah tempat yang aman dan nyaman baginya.
Setelah perjumpaan tersebut, saya terus berpikir, siapa Pak Gareng ini? Kok mau-maunya dia merawat si Oki yan bengalnya ra ketulungan ini. Tiba-tiba terlintas di pikiran saya, bapaknya Oki khan juga tukang becak. Tahun ini, 14 Desember, kata Make, bapaknya Oki bakalan bebas dari penjara. Jangan-jangan nih orang salah satu sohib bapaknya Oki semasa jadi tukang becak dulu, lalu menyuruh sohibnya ini untuk “mengikat” si Oki, dengan memanfaatkan kebiasaan minggatnya agar suatu saat bisa dibawa pergi bapaknya. Karena si bapak Oki ini pernah mewanti-wanti istrinya agar ia bisa membawa salah satu anak kandungnya selepas dari penjara. Saya pusing, saya terlelap tidur.
Kamis pagi, (9/04), saya putuskan pulang dulu ke Bantul, melepas kangen dengan keluarga. Rencananya, Jum’at siang baru saya kembali lagi ke Code, mengajar lagi. Levi juga sudah nggak sabar pengen ketemu Oki selepas ngajar Jum’at malam. Jadi pas hari Kamis benar-benar saya habiskan dengan ikutan nyontreng – merusak kertas suara tepatnya, berputar-putar di sudut kampung, menemui teman-teman saya yang sudah beranak pinak. Bicara beranak-pinak, dari seluruh muda-mudi seangkatan saya di kampung, hanya saya yang belum memiliki pasangan hidup. Kata Lek Muji, tetangga saya, “Kok kamu tuh nggak kawin-kawin to, Nang. Duitmu itu buat apa. Jangan ditumpuk mulu, nanti dimakan rayap, lho!”. Saya hanya bisa melongo. “Kok iso?”.
Jum’at malam merupakan saat yang saya tunggu-tunggu. Bertemu lagi dengan bocah-bocah, bermain, mengerjakan PR dan tak lupa bertemu Levi yang terus-terusan meringis menahan nyeri di punggungnya akibat jatuh dari atap rumah. Khusus untuk Levi, sumpah, saya acungin jempol untuk dirimu, sekalipun punggungmu belum sembuh benar, kamu tetap nekad bermain dengan anak-anak. Salut, Lev. “Jadi istriku, mau ya?”, huwahahahaha.
Jum’at malam rencananya Levi ada sedikit kejutan buat Ida yang sedang ulang tahun. Dua kue brownies berbentuk bundar, beberapa lilin kecil yang siap ditiup Ida dan beberapa kejutan kecil sudah disiapkan. Tapi, apa daya, Ida, perempuan kecil jenius itu ternyata ikut merayakan Paskah di gereja Kotabaru, padahal Ida khan Islam? Ok, deh, nggak masalah, selama misi yang kalian emban memang benar-benar mulia, tidak mencoba memanfaatkan kekurangan yang ada pada diri mereka. Akhirnya, satu kue langsung saja kita santap bersama-sama sambil cekikikan, keselek pula. Satu kue lagi saya antar bersama Levi ke rumah Ida.
Pukul setengah sepuluh malam, selesai mengajar, saya dan Levi langsung saja meluncur ke tempat Oki. Saya berharap bisa bertemu Pak Gareng, orang yang benar-benar membuat saya penasaran. Seperti apa sih orangnya?
Sampai di pos satpam optik Akur, ternyata Oki lagi asyik nonton sinetron sembari dipangku orang tua berumur enam puluhan, berkaos merah, bertopi gelap, tanpa alas kaki.
Melihat Levi, Oki langsung menghambur sembunyi ke sudut ruangan pos satpam. Entah malu atau takut, yang jelas saya hanya tertawa melihat tingkahnya. Levi juga cengengesan, “Kamu tu kenapi, Kik. Kayak nggak kenal aja. Pie kabarmu, tadi aku main ke tempatmu lho?”. Oki hanya menjep.
Untuk mempercepat waktu, karena saya juga harus pulang ke Bantul, saya langsung bertanya ke bapak yang sudah agak berumur tadi. “Pak, nuwun sewu, Pak Gareng itu yang mana, ya. Kok kata si Oki orangnya baik banget?”
“Kulo mas, Pak Gareng. Saya yang merawat Oki selama ini?”, begitu katanya. Akhirnya, ketemu juga nih orang. Tanya sana-sini, ternyata Pak Gareng memang cukup kenal dekat dengan bapaknya Oki. Di sini, saya cukup berhati-hati, mengapa kok nih bapak berkenan merawat si Oki.
Jam sepuluh lewat seperempat, setelah informasi yang saya peroleh saya rasa cukup, saya putuskan pamitan pulang. Oki juga terlihat mulai jenuh dengan pertanyaan-pertanyaan saya dan Levi. Levi tampaknya juga cukup capek, masih sambil sedikit-sedikit memegang punggungnya.
Di gerbang depan optik Akur, saya sedikit berandai-andai dengan Levi. “Gimana ya, Lev, kalau si Oki ikutan Taufik aja. Soal mental, biar Taufik yang ngurus, soal keuangan, kita yang bantu?”.
“Emm, boleh juga. Sekarang aku khan udah kerja full time jadi ya honornya bisa dibagilah. Kiriman orangtua dari Balikpapan juga masih lancar kok!”, ujar Levi dengan semangat.
Saya hanya bisa menganggukkan kepala sambil sedikit komentar. “Boleh juga, Lev!”, singkat, padat dan bingung.
Jogja memang tak ada matinya.
Djuanda, 130409
DIarsipkan di bawah: Uncategorized







