(Keluar) dari sangkar “emas”

Seperti biasa, Senin, (20/04), adalah hari menyenangkan. Coba tebak apa? Berebut Kompas Sabtu dan Minggu dengan sekretaris bos. Penyebabnya adalah karena saya, dirinya, serta pegawai lain hampir punya minat sama; keluar dari sangkar emas ini. Sangkar emas? Begitu orang menyebutnya, termasuk orangtua saya.

Bukannya mencoba mengadu, atau malah mencari simpati, sekarang ini saya benar-benar diganggu perasaan ingin mengakhiri kerja saya di tempat kerja yang sekarang. Orang mungkin beranggapan bahwa saya termasuk orang mujur. Kerja di lembaga pemerintahan, sekalipun bukan pegawai negeri, gaji bulanan selalu bisa diharapkan, uang makan juga ada, tak perlu takut sewaktu-waktu kena PHK. Nyaman, bukan?

Bekerja di lembaga pemerintahan ternyata memang seperti yang saya perkirakan dulu. Kerjaan minim (itu saya, nggak tahu yang lain), lebih banyak berleha-leha, pesbukan mulu, blogging till drop, nyaman sekali, khan?

Sudahlah, saya coba bernostalgia saja.

Di masa masih kuliah dulu, saat saya benar-benar aktif dengan segudang kerjaan, saya selalu tahu apa yang akan kerjakan esok pagi ketika bangun dari tidur. Motor bebek merk Sigma siap dipanasi, tak perlu sarapan, beberapa kertas berisi kajian-kajian tetek bengek yang semalaman saya oprek, semua sudah siap dengan sempurna. Sungguh memesona.

Sore, ketika pulang kerja, lagi-lagi saya meras otak lagi; membantu anak-anak belajar, bermain, ngapelin tetangga baru nan cantik, ohh…

Sudahlah, CV, resume dan pas photo ukuran 3×4 sudah siap, nih! saya pengen merealisasikan nostalgia ini!

Djuanda, 200409

Tinggalkan Balasan