Say No To KEKERASAN

tegarSemalam, (13/07), di TV One, saya geregetan saat melihat berita seorang anak, bernama Tegar yang kehilangan salah satu kaki gara-gara ulah bapak tirinya yang melindaskan kaki Tegar di rel kereta api. Penyebabnya, si bapak tiri Tegar ini sedang kalut karena habis ribut dengan sang istri, ibu kandungnya Tegar. Lagi-lagi, anak menjadi korban, menjadi pelampiasan.

Saat saya lihat di televisi, saya cukup tertekan. Seorang bocah yang baru genap berusia tiga tahun harus menanggung trauma begitu berat. Tiap kali melihat kakinya yang buntung sebelah, wajahnya pasti langsung menghadap ke atas, seakan tak percaya kakinya yang tinggal sebelah. Ketika kakinya diukur untuk dibuatkan kaki palsu sebagai ganti kakinya yang hilang, lagi-lagi Tegar meronta, menolak.

Saya kok jadi tidak sabar ingin segera pulang Jogja, menjenguk anak-anak di perempatan Gramedia Jogja dan anak-anak di bawah kolong jembatan kali Code.

Di Indonesia, menjadi anak-anak adalah saat yang menakutkan. Tiap sudut selalu menjadi ancaman. Di rumah, lingkungan domestik yang harusnya lebih memberikan rasa aman dan nyaman, jauh lebih tidak ramah. Ketika di sekolah pun sama saja. Anak-anak harus patuh terhadap kurikulum yang mengharuskan mereka menjadi A, B, C, dst. Belum lagi perilaku guru yang sering sewenang-wenang. Di jalanan apalagi – anak adalah sasaran paling empuk untuk dijadikan calo recehan.

Kalau dirunut, penyebab terjadinya kekerasan terhadap anak di lingkungan domestik (baca: rumah tangga) terjadi karena banyak hal. Namun satu yang paling sering terjadi adalah karena permasalahan ekonomi.

Tiap tahun, hampir tidak pernah saya melihat semangat dari Komnas Perlindungan Anak. Saya cermati beberapa tahun terakhir ini, Komnas Perlindungan Anak hanya “tampil” ketika ada kasus-kasus yang secara hangat diangkat oleh media. Selebihnya, mana?

Begitu juga dengan media massa yang saat ini hanya mengejar rating semata. Bisa kita lihat di tayangan-tayangan televisi yang sama sekali tidak mendidik. Dimana-mana reality show diumbar, audisi-audisi anak dimana-mana, ditambah sinetron yang hampir tiap malam membuat mata jadi sepet. Ini baru media semacam televisi, belum lagi media seperti internet, majalah, surat kabar, radio, semua saja, tetap mengerikan.

Kak Seto, tugasmu masih banyak!

Tinggalkan Balasan