
Samantha – An American Girl Holiday
Minggu pagi sekitar jam dua, (02/08), karena tidak bisa tidur, saya iseng-iseng nonton tv. Siapa tahu ada stasiun televisi yang memutar film dewasa. Lumayan, kata dokter Boyke, menjelang pagi biasanya adrenalin mulai muncak, lalu ujung-ujungnya, gitu dehh. Bagi yang punya pasangan tentunya, bagi yang belum punya, lampiaskan dengan kejap-kejap mata saja.
Saat melihat judulnya, Samantha – an American Girl Holiday, sepertinya nih film lumayan ok, judulnya aja menggunakan girl pula. Langsung deh, tancap gas ke TKP. Tapi ternyata, setelah saya tunggu lima menit pertama, sepuluh menit berikutnya, lanjut ke dua puluh menit setelahnya, tetap saja itu-itu juga. Wahh, ketipu nih!
Eitss, nanti dulu, setelah saya amati setengah jam pertama, ternyata film ini menarik juga. Walhasil, justru saya berikan acungan jempol untuk film angkatan 2004 ini.Dimulai dari seorang gadis berusia sepuluh tahun bernama Samantha Parkington yang tinggal bersama neneknya, “Grandmary” Edwards, di sekitaran pegunungan Mount Bedford dan sungai Hudson.
Di film ini, Samantha “terpaksa” hidup bersama neneknya karena kedua orangtuanya tewas dalam kecelakaan. Keluarga besar Samantha merupakan golongan “ningrat”. Aktivitas Samantha sehari-hari juga tak pernah lepas dari perhatian neneknya. Salah satu aktivitasnya adalah belajar piano.
Samantha memiliki paman, bernama Gard, yang begitu menyayanginya. Paman Gard ini tinggal di New York untuk menjalankan beberapa perusahaan warisan keluarga besar Edward. Tiap kali pulang ke rumahnya di Hudson, Gard selalu memberikan kado terbaik untuk Samantha.
Nenek Samantha, “Grandmary” Edwards, memiliki pembantu baru laki-laki yang membawa serta ketiga anaknya; si sulung Nellie, Bridget dan si bungsu Jenny. Pada akhirnya, karena Samantha minim teman, akhirnya Nellie menjadi sahabat Samantha.
Setelah lama melajang, akhirnya Paman Gard menikah dengan Cornelia. Hal ini menjadikan Samantha sedikit iri karena kasih sayang yang sebelumnya ia miliki penuh, akhirnya harus terbagi dengan istri baru Paman Gard. Seiring berjalannya waktu, akhirnya Samantha luluh juga dengan cinta tulus yang diberikan Caroline. Sosok yang bisa dikatakan menggantikan peran ibunya yang sudah tiada.
Setelah menikah, Samantha diboyong Paman Gard dan Caroline ke New York. Awalnya, Samantha menolak keras karena itu artinya ia harus meninggalkan nenek dan tentunya sahabat tercintanya, Nellie. Namun, persahabatan antara Samantha dan Nellie tetap berjalan, yakni melalui surat menyurat.
Setelah beberapa waktu di New York, surat-surat dari Nellie mulai jarang. Ternyata, ayah Nellie meninggal karena serangan flu berat. Nellie dan kedua adiknya akhirnya dirawat di salah satu panti asuhan yang tidak manusiawi. Di panti asuhan tersebut, Nellie dipisahkan dengan kedua adiknya.
Mendengar kabar tersebut, akhirnya Samantha nekat mengeluarkan Samantha dan adik-adiknya dari panti asuhan tersebut. Nellie dan adik-adiknya akhirnya tinggal di rumah Paman Gard dan Caroline -tentu tanpa sepengetahuannya.
Akhirnya, demi adik-adiknya, Nellie nekat bekerja sebagai tukang jahit di kota tanpa sepengetahuan Samantha. Ketika Samantha mengetahuinya, ia langsung berusaha mencarinya. Di sinilah saat ketika Samantha melihat fenomena anak-anak yang masih berusia belia terpaksa bekerja demi membantu ekonomi keluarga. Dari sini jugalah akhirnya Samantha merubah isi pidato yang harusnya ia sampaikan saat ulang tahun sekolahnya.
Sebagai penutup, saat Natal tiba, akhirnya Nellie dan kedua adiknya diadopsi oleh Paman Gard dan Caroline sebagai saudara dari Samantha yang lebih dulu menjadi anak angkat Paman Gard.
Kesimpulan:
Film ini wajib ditonton oleh kalangan akademisi, guru, aktivis dan tentunya kalangan pemerintah yang bergerak dalam bidang pemenuhan hak-hak anak – khususnya KPA (Komisi Perlindungan Anak).
Source: http://en.wikipedia.or/wiki/Samantha:_An_American_Girl_Holiday
DIarsipkan di bawah: Uncategorized







