Dunia tontonan: “I Love U Full” Mbah Surip

Lolo & Suripisme

Lolo & Suripisme

Ketika tiba-tiba detik.com memasang berita meninggalnya Mbah Surip, serentak hampir seluruh pegawai di lingkungan kantor saya geger. Facebook colongan segera dipasang, tak tik tak tik sms segera seliweran tak keruan, lomba pasang status di YM atau FB juga tak kalah seru. Malamnya, stasiun-stasiun televisi berlomba menyiarkan prosesi pemakaman dan akad nikah putri ketiga Mbah Surip secara live.

Saya cukup kagum sekaligus miris dengan etika peliputan yang dilakukan saat prosesi menjelang pemakaman Mbah Surip. Ratusan orang berebut tempat demi melihat jenazah Mbah Surip. Dalam otak mereka mungkin berpikir, “rambut gimbalnya dipotong nggak, ya?”.Wartawan dan kameramen juga tak kalah gesit. Tripod diangkat tinggi-tinggi, nyala kamera disana-sini. Pokoknya sebisa mungkin mereka HARUS menjadi juara momen komoditas dan rating tersebut.

Saat keranda dibuka dan tali pocong di kepala Mbah Surip dilepas, yakni untuk menunjukkan wajah terakhir Mbah Surip ke pihak keluarga, lagi-lagi takziah (boleh dibaca takziah, orang kurang kerjaan, cari sensasi, atau apalah) mengerubuti keranda Mbah Surip. Pihak keluarga yang ingin melihat Mbah Surip dan ingin mengesun wajah Mbah Surip malah dibuat kerepotan, tak kebagian tempat. Salut, namun juga miris dan jengkel.Dunia tontonan

Seringkali kejadian empirik seperti ini menjadi konsumsi paling laku di kalangan media. Apalagi muatan berita ini mengandung muatan konfliktual. Kendati demikian, sebenarnya hanya sedikit nilai yang bisa dijadikan landasan dalam sebuah berita. Masih banyak perhitungan lain kenapa Mbah Surip menjadi sorotan paling aktual saat itu. Oleh karena itu pantaslah jika berita pada dasarnya tidak hadir dalam sebuah ruang yang kosong. Dalam mekanisme kerja media, news values sangat menentukan sebuah realitas mendapat tempat atau pantas untuk diberitakan.

Bisa jadi, memang demikianlah kenyataanya. Jarang sekal kita berpikir tentang adanya pertalian kuasa dan kepentingan dibalik realitas berita tersebut. Saya sendiri sering menganggap berita sebagai realitas apa adanya, kentut yang lalu. Padahal, ketika saya atau mungkin Anda miskin pretensi untuk mempertanyakan kenapa berita tersebut dibuat, atas dasar apa berita tersebut dibuat, atau atas dasar apa berita tersebut menjadi layak disajikan ke khalayak ramai, maka bisa jadi akan menjebak saya atau mungkin Anda untuk mengakui kebenaran berita dan bukan kebenaran realitas berita tersebut.

Tayangan kehidupan para selebriti merupakan salah satu dari dua corak banalitas yang lazim hadir dalam program televisi saat ini. Pertama yakni dalam berbagai macam tayangan yang berbau kekerasan, kriminal sampai peristiwa-peristiwa mematikan. Kedua, justru berkebalikan, yakni tayangan realitas sehari-hari yang remeh-temeh dari kehidupan seseorang. Termasuk di dalamnya adalah tayangan program-program hiburan serta program factual entertaintment yang menyangkut kehidupan seorang tokoh terkenal. Tokoh di sini bukan dalam konteks tokoh publik yang memiliki kaitan langsung dengan kehidupan masyarakat secara luas, melainkan sekadar public figure yang terkenal karena keartisannya atau lazim dikenal dengan sebutan selebritis – Baudrillard (Taylor dan Harris: 2008).

Kepada saya dan anda sekalian, apa perlu kita ikut larut dan menikmati pemandangan seperti ini?

2 Tanggapan

  1. oh em jiii, foto gw di pajang
    bayar royalti ya!!!!!! :p

Tinggalkan Balasan