(mungkin) dua tahun lagi

Setelah berpikir beberapa malam dan ditambah bumbu-bumbu kotor dari beberapa teman, akhirnya saya memutuskan untuk melanggar cangkem saya sendiri: kuliah.

Awalnya ragu-ragu, apalagi soal biaya kuliah di Jakarta yang sangat berbeda jauh dibandingkan di Jogja sono. Kalau saya itung-itung lagi, itu artinya saya harus menyisihkan separo lebih sedikit dari gaji yang saya terima. Sisanya saya harus berbagi lagi untuk jatah kos, madang dan tentu jatah bulanan si Ari, adik perempuanku yang kuliah di kota seberang.

Untuk takaran pegawai kantoran yang tidak memiliki pangkat spesial, hidup di Jakarta dengan gaji pas-pasan, masih ditambah beberapa beban bulanan yang wajib dipenuhi, gaji yang saya terima sekarang jelas kurang mencukupi. Belum lagi jika saya benar-benar madep mantep menempuh bangku kuliah lagi. Konyol, bukan?

Selasa, (11/08), saya memutuskan untuk bolos kerja demi mengambil formulir pendaftaran di salah satu universitas di Jakarta. Sesampainya di universitas yang beberapa lulusannya menjadi pegiat stasiun televisi, saya cukup kaget melihat rincian biaya kuliah yang harus dibayar saat pertama kali masuk. Ditambah lagi biaya kuliah yang harus dikeluarkan tiap semesternya. Pengen muntah!

Setelah ijazah dan transkrip nilai saya serahkan ke bagian akademik dan tak lupa membayar biaya pembelian formulir sebesar 50 ribu, saya segera melenggang pulang. Pulang sambil berpikir-pikir lagi tentang rencana kuliah yang mendebarkan. Mendebarkan bukan karena saya grogi menghadapi dunia perkuliahan lagi, mendebarkan karena saya harus berjudi dengan kondisi tabungan saya yang hanya berisi sejutaan.

Sampai di kos, saya cari-cari lagi life mapping yang pernah saya tempel di tembok di dalam kamar selama beberapa bulan namun akhirnya saya copot lagi: Sepertinya jadwal merantau di Jakarta segera berubah.
Djuanda, 120809

Dunia tontonan: “I Love U Full” Mbah Surip

Lolo & Suripisme

Lolo & Suripisme

Ketika tiba-tiba detik.com memasang berita meninggalnya Mbah Surip, serentak hampir seluruh pegawai di lingkungan kantor saya geger. Facebook colongan segera dipasang, tak tik tak tik sms segera seliweran tak keruan, lomba pasang status di YM atau FB juga tak kalah seru. Malamnya, stasiun-stasiun televisi berlomba menyiarkan prosesi pemakaman dan akad nikah putri ketiga Mbah Surip secara live.

Saya cukup kagum sekaligus miris dengan etika peliputan yang dilakukan saat prosesi menjelang pemakaman Mbah Surip. Ratusan orang berebut tempat demi melihat jenazah Mbah Surip. Dalam otak mereka mungkin berpikir, “rambut gimbalnya dipotong nggak, ya?”. Baca selebihnya »

Subkultur batik

Bagi beberapa orang, termasuk saya, memakai batik merupakan hal baru yang cukup menggemaskan. Bagaimana tidak, batik yang beberapa tahun lalu minim dipakai, sekarang sudah menjadi brand yang patut dibanggakan. Pegawai-pegawai kantoran sibuk berlomba dengan merk batik, sekolah-sekolah menjadikan batik sebagai seragam yang wajib dipakai untuk hari-hari tertentu, padahal sebenarnya lahan bisnis belaka. Mall-mall yang sebelumnya hanya doyan memajang pakaian merk luar negeri, sekarang beralih memamerkan pakaian-pakaian bermotif batik. Mulai dari yang harga puluhan ribu sampai jutaan. Saya sendiri masuk dalam kategori puluhan ribu saja, pasnya 30 ribu. Sekalipun 30 ribu, nyaman dipakai, sama-sama menyerap keringat  nan bau. Bedanya cuma satu, batik saya ketika pertama kali kena cuci, langsung luntur. huwahahahaha.

Dulu, ketika saya masih belum “mengenal” batik, saya merasa batik adalah identitas paling konyol dan patut ditertawakan. Identik dengan simbah-simbah atau bapak-bapak yang akan mengejar kendurian atau kondangan nikahan. Masih harum di ingatan, batik juga menjadi ciri paling khas di kalangan guru jaman dulu, KORPRI. Masih ingat? Baca selebihnya »

Wajib ditonton: Samantha – An American Girl Holiday

Samantha – An American Girl Holiday

Samantha – An American Girl Holiday

Minggu pagi sekitar jam dua, (02/08), karena tidak bisa tidur, saya iseng-iseng nonton tv. Siapa tahu ada stasiun televisi yang memutar film dewasa. Lumayan, kata dokter Boyke, menjelang pagi biasanya adrenalin mulai muncak, lalu ujung-ujungnya, gitu dehh. Bagi yang punya pasangan tentunya, bagi yang belum punya, lampiaskan dengan kejap-kejap mata saja.

Saat melihat judulnya, Samantha – an American Girl Holiday, sepertinya nih film lumayan ok, judulnya aja menggunakan girl pula. Langsung deh, tancap gas ke TKP. Tapi ternyata, setelah saya tunggu lima menit pertama, sepuluh menit berikutnya, lanjut ke dua puluh menit setelahnya, tetap saja itu-itu juga. Wahh, ketipu nih!

Eitss, nanti dulu, setelah saya amati setengah jam pertama, ternyata film ini menarik juga. Walhasil, justru saya berikan acungan jempol untuk film angkatan 2004 ini. Baca selebihnya »

Say No To KEKERASAN

tegarSemalam, (13/07), di TV One, saya geregetan saat melihat berita seorang anak, bernama Tegar yang kehilangan salah satu kaki gara-gara ulah bapak tirinya yang melindaskan kaki Tegar di rel kereta api. Penyebabnya, si bapak tiri Tegar ini sedang kalut karena habis ribut dengan sang istri, ibu kandungnya Tegar. Lagi-lagi, anak menjadi korban, menjadi pelampiasan.

Saat saya lihat di televisi, saya cukup tertekan. Seorang bocah yang baru genap berusia tiga tahun harus menanggung trauma begitu berat. Tiap kali melihat kakinya yang buntung sebelah, wajahnya pasti langsung menghadap ke atas, seakan tak percaya kakinya yang tinggal sebelah. Ketika kakinya diukur untuk dibuatkan kaki palsu sebagai ganti kakinya yang hilang, lagi-lagi Tegar meronta, menolak.

Saya kok jadi tidak sabar ingin segera pulang Jogja, menjenguk anak-anak di perempatan Gramedia Jogja dan anak-anak di bawah kolong jembatan kali Code. Baca selebihnya »